Di situsprediksibola.net menyajikan berita terupdate tentang keputusan Manchester United mengakhiri kerja sama dengan Ruben Amorim menambah satu bab kelam dalam sejarah panjang klub. Kutukan kursi pelatih MU kembali menjadi perbincangan hangat, bukan hanya di kalangan fans, tetapi juga di meja analisis pusat prediksi sepak bola yang menilai bahwa masalah United jauh lebih dalam daripada sekadar nama pelatih. Amorim pun kini resmi masuk dalam daftar panjang figur yang gagal bertahan di kursi panas Old Trafford.
Bagi banyak pendukung, kabar ini terasa menyakitkan sekaligus melelahkan. Harapan akan stabilitas kembali runtuh sebelum benar-benar tumbuh. Yuk kita telusuri mengapa Amorim akhirnya tumbang, bagaimana reaksi petinggi klub, dan siapa saja sosok yang kini dipertimbangkan untuk menahan laju krisis hingga akhir musim.
Baca Juga: Prediksi Arsenal vs Manchester United: Ujian Berat Setan Merah!
Kutukan Kursi Pelatih MU yang Terus Berulang
Sejak era kejayaan Sir Alex Ferguson berakhir, Manchester United seperti terjebak dalam siklus yang sama. Pelatih datang membawa janji, lalu pergi dalam tekanan. Ruben Amorim kini menyusul nama-nama sebelumnya yang gagal menjawab ekspektasi besar klub sebesar Manchester United.
Kutukan kursi pelatih MU bukan sekadar mitos emosional fans. Statistik menunjukkan bahwa tidak ada pelatih pasca-Ferguson yang benar-benar diberi waktu panjang untuk membangun proyek utuh. Amorim datang dengan reputasi cemerlang, namun realitas Liga Inggris dan tekanan internal membuat jalannya jauh dari mulus.
Amarah Petinggi Klub dan Titik Balik Pemecatan

Ketika Kesabaran Sir Jim Ratcliffe Habis. Salah satu faktor kunci yang mempercepat kejatuhan Amorim adalah memburuknya hubungan dengan jajaran petinggi klub, khususnya Sir Jim Ratcliffe. Beberapa laporan menyebut bahwa Ratcliffe kecewa terhadap hasil di lapangan serta sikap Amorim yang dinilai terlalu vokal di ruang publik.
Dalam klub dengan struktur manajemen yang sedang dibenahi, kritik terbuka dari pelatih dianggap sebagai pelanggaran batas. Di sinilah kutukan kursi pelatih MU kembali bekerja: ketika hasil tak sesuai harapan dan komunikasi internal memburuk, pemecatan hampir selalu menjadi jalan pintas.
Empat Nama Interim dan Skenario Darurat MU
Setelah Amorim hengkang, Manchester United tidak langsung menunjuk pelatih permanen. Klub dikabarkan menjajaki beberapa mantan pemain dan figur internal untuk mengisi posisi pelatih interim hingga akhir musim. Langkah ini mencerminkan situasi darurat, bukan perencanaan matang.
Keputusan memilih interim menjadi sinyal bahwa manajemen lebih fokus menjaga stabilitas jangka pendek ketimbang mengambil risiko besar di tengah musim. Dalam konteks kutukan kursi pelatih MU, strategi ini dinilai aman, meski tidak menyelesaikan akar masalah.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Tayang Gratis Di Indonesia, Semua Laga Bisa Ditonton
Oliver Glasner dan Harapan Baru di Tengah Kekacauan
Nama Oliver Glasner mencuat sebagai kandidat terkuat pelatih baru Manchester United. Glasner dikenal dengan pendekatan taktik yang disiplin dan kemampuan membangun tim dengan struktur jelas, sesuatu yang selama ini dinilai hilang di United.
Meski demikian, tekanan yang akan dihadapi Glasner tidak kecil. Sejarah menunjukkan bahwa siapa pun yang datang, akan langsung dihadapkan pada ekspektasi instan. Inilah mengapa banyak analis menyebut bahwa kutukan kursi pelatih MU tidak akan benar-benar hilang tanpa perubahan mendasar di level manajemen dan visi klub.
Masalah Sebenarnya Lebih Besar dari Amorim

Menyalahkan Amorim sepenuhnya terasa terlalu sederhana. Pergantian pelatih yang terlalu sering justru memperlihatkan masalah struktural yang belum terselesaikan. Ketidakjelasan arah, tekanan komersial, serta tuntutan prestasi instan membuat setiap pelatih bekerja di bawah bayang-bayang kegagalan.
Kutukan kursi pelatih MU pada akhirnya menjadi cermin dari krisis identitas klub. Tanpa konsistensi kebijakan dan keberanian memberi waktu, siapa pun yang duduk di bangku pelatih akan menghadapi nasib serupa.
Penutup: Akankah Siklus Kutukan Kursi Pelatih MU Ini Pernah Berakhir?
Ruben Amorim hanyalah satu nama lagi dalam daftar panjang. Kepergiannya menegaskan bahwa Manchester United masih mencari jalan keluar dari lingkaran masalah yang sama. Fans berharap keputusan berikutnya bukan sekadar reaksi emosional, melainkan langkah strategis yang benar-benar mengubah arah klub.
Jika tidak, kutukan kursi pelatih MU akan terus berulang, dan Old Trafford akan tetap menjadi tempat di mana harapan besar datang untuk kemudian runtuh sebelum waktunya.